2. Perbanyaklah Sholawatmu, Baginda Pasti Mengenalmu di Telaga Kautsar Nanti.

Di lorong-lorong usia yang kian mengecil dan gawat,

Kita sering terpukau pada buih-buih khayalan yang membusung,

Menenun angan-angan panjang daripada benang-benang kelalaian,

Sedang di luar jendela waktu, maut sedang mengasah sabitnya dengan diam.

Wahai diri yang sedang karam dalam laut igauan,

Sampai bilakah kau ingin membiarkan ruhmu kaku dan terasing,

Kau kejar bayang-bayang yang berlari di celah pohon fana,

Sedang kau abaikan satu-satunya Nur yang tidak pernah padam,

Cahaya yang tetap benderang tatkala matahari sejarah mula karam.

Ketahuilah olehmu, wahai musafir yang sedang meraba dalam gelita,

Bahwa Sholawat itu ibarat pelaburan yang tidak mengenal istilah rugi atau muflis,

Sebuah simpanan yang akan mengecap dirimu akan wangian syurga,

Saat nafasmu mula tersangkut di kerongkong penantian.

Bagaimana mungkin kau mengharap payung syafaat yang teduh,

Tatkala peluh duka membanjiri dataran Mahsyar,

Sedangkan di dunia yang singkat ini, lidahmu menjadi tugu yang bisu,

Jarang sekali mengirimkan salam rindu buat Sang Kekasih yang senantiasa merindukanmu,

Kau laksana pengemis di gerbang istana yang maha luas,

Namun tanganmu hanya menggenggam debu dan sampah-sarap dunia yang kusam.

Lihatlah, lihatlah ke arah tanah yang kering kontang itu,

Di mana pokok-pokok berdiri lesu dalam kepasrahan yang perit,

Ia akan kembali hijau, kembali bersemi, kembali menyanyi,

Apabila hujan rahmat datang berpaling dari langit yang tenang.

Begitulah jua perumpamaan hatimu yang telah lama mati,

Yang dimakan ulat-ulat keduniaan dan karat-karat kebendaan,

Ia akan hidup semula, berdenyut dengan irama yang paling murni,

Dengan aliran Sholawat yang memancur dari telaga kesucian ruhani.

Sholawat itu adalah hujan lebat yang akan menyuburkan tanah hati yang keras,

Menukar tangisan duka menjadi tawa syukur yang paling ikhlas.

Wahai para perindu yang mendambakan wajah Baginda di telaga Kautsar,

Janganlah biarkan lisanmu kering daripada titisan mawar Sholawat,

Karena setiap butir puji-pujian itu adalah anak kunci yang dijanjikan,

Setiap alunan itu adalah perisai daripada api yang menghanguskan.

Sucikanlah bicaramu daripada debu-debu kata yang sia-sia,

Dan terbanglah bersama sayap rindu menuju ke alam hakikat,

Di sana, tiada lagi suara yang kedengaran melainkan gema cinta,

Buat Al-Mustafa, insan yang membuatkan rembulan merasa malu,

Dan membuatkan awan-awan sujud menaungi setiap langkah kakinya.

Bersholawatlah, duhai jiwa yang sedang dahaga,

Bersholawatlah sebelum pintu taubat dirapat dan dikunci,

Bersholawatlah sebelum lidahmu menjadi kaku dan mati.

Jadikanlah ia bekalanmu yang paling utama dan keramat,

Karena di sana nanti, hanya mereka yang banyak bersholawat,

Akan duduk paling dekat, paling akrab, paling rapat,

Bersandar di atas pelamin kemuliaan yang tiada tara,

Di bawah tatapan kasih Sang Nabi yang dicintai selamanya.

Yu akhiri dengan membaca sholawat:

Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima

Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad),  Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)