Bagaimana jika ‘cahaya’ yang kita sangka petunjuk Tuhan itu sebenarnya hanyalah api kehancuran yang menyamar di balik kejahilan?
–
Duhai jiwa yang sedang berkelana di padang belantara dunia, dengarlah rintihan ini dengan telinga hati. Diri ini berbicara bukan karena sudah sampai ke puncak, tetapi karena bimbang kita semua sedang berpesta di atas sebuah kapal yang sedang karam.
–
Duhai jiwa yang sedang rindu, aduhai hati yang sedang dahaga akan ketenangan hakiki. Seringkali kita mendengar kabar tentang kemanisan iman, tentang keajaiban karamah para wali, dan tentang ketinggian maqam mereka yang digelar Ahlullah. Namun, ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sebuah puncak gunung yang tinggi tidak akan dapat dijejak tanpa bermula dengan ayunan langkah yang pertama di kaki bukit.
–
Pernahkah kalian merenung kata-kata hikmah yang sering digaungkan? “Langkah yang beribu batu, hakikatnya bermula dengan satu langkah kecil.” Dalam perjalanan Suluk (perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala), langkah pertama itu bukanlah keajaiban terbang di udara atau berjalan di atas air. Langkah pertama itu adalah Belajar Ilmu Fardhu Ain.
–
ASAS YANG TEGUH: BENTENG DARI TIPU DAYA.
Ramai antara kita yang ghairah mau terus melompat ke alam Zauq (rasa spiritual) dan Kasyaf (pembukaan Rahasia), namun malangnya, mereka membiarkan kapal Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf mereka bocor di tengah lautan kejahilan. Kalam Hikmah Arifbillah pernah berpesan dengan sangat indah:
“Jalan kami (Tasawuf) ini terikat dengan prinsip Al-Quran dan As-Sunnah.”
–
Maknanya apa, duhai pembaca yang budiman? Jika seseorang itu mengaku telah sampai ke maqam yang tinggi, namun solatnya tidak beradab mengikut Fiqih, atau akidahnya menyimpang dari Tauhid yang benar, maka ketahuilah bahwa apa yang dia capai itu bukanlah makrifah, melainkan Istidraj (tipu daya yang membawa kebinasaan).
–
BAHAYA KHAYALAN DI JALAN SUNYI.
Tanpa ilmu fardhu ain yang mantap, perjalanan kerohanian kita akan mudah dicemari oleh Khayalan dan bisikan syaitan yang halus. Syaitan itu sangat licik; ia boleh datang dalam rupa cahaya yang memukau, membuatkan kita merasa diri sudah “suci” dan “hebat” berbanding orang lain. Inilah yang dipanggil sebagai Ghurur (terpedaya).
–
Jika Tauhid kita tidak kukuh, kita akan mula menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kehebatan diri sendiri. Jika Fiqih kita hanyut, kita akan mula mempermudah-mudahkan syariat atas nama “hakikat”. Dan jika Tasawuf kita tanpa panduan, kita akan tersesat dalam lembah ego yang gelap.
–
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin sering mengingatkan bahwa ilmu dan amal itu umpama sepasang sayap. Tanpa salah satu, kita tidak akan mampu ‘terbang’ menuju ke hadrat-Nya.
–
MARI KITA BERMULA KEMBALI.
Duhai saudaraku, janganlah malu untuk kembali membuka kitab-kitab asas. Janganlah segan untuk duduk di bangku pengajian mengenal rukun solat dan sifat dua puluh. Karena di balik ketegasan hukum Fiqih dan kejelasan Tauhid, di situlah letaknya keselamatan ruhanimu.
–
Para kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadi mulia karena mereka mengejar pengalaman ghaib, tetapi karena mereka begitu teguh memegang syariat dalam keadaan penuh cinta (Mahabbah). Mereka adalah orang yang paling takut jika langkah mereka tergelincir dari landasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
–
Justeru, mari kita betulkan niat. Mari kita hiasi batin kita dengan ilmu yang sahih. Biarlah langkah kita kecil, asalkan ia berada di jalan yang benar. Biarlah kita merangkak mencari Ridho-Nya, daripada kita berlari menuju khayalan yang membinasakan. Perkemaskan Ilmu Tauhid Sifat 20, Fiqih Imam SYAFIE, Tasawuf Imam GHAZALI. Mudah-mudahan kita selamat dunia Dan akhirat. Aamiin.
Yu akhiri dengan membaca sholawat:
Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima
Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad), Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)