Dunia melihatmu diam membatu di sudut sepi, namun di alam Rahasia, hatimu sedang meredah ribuan jangkauan cahaya – karena bagi seorang pecinta, tiada jarak yang lebih jauh daripada hati yang lalai, dan tiada ziarah yang lebih dekat daripada Sholawat yang bernyawa.
–
Cinta yang kau rasakan hari ini sebenarnya bukan sebuah penemuan baru, bukan juga sebuah kebetulan yang singgah di muara waktu. Ketahuilah, benih rindu itu sudah pun bercambah sebelum jasadmu mengenal tanah, dan sebelum nafasmu mengenal udara. Kita telah pun mematerai janji kasih itu di alam Ruh – sebuah ‘dimensi’ di mana cahaya tidak memerlukan perantara matahari. Apa yang kau rasakan sekarang hanyalah sebuah Rahasia lama yang sedang belajar untuk mekar kembali, seperti bunga purba yang bangkit selepas musim sejuk yang panjang. Ia adalah ingatan yang kembali pulang ke pangkuan pemiliknya.
–
Ramai pengembara tersilap langkah, menyangka bahwa Madinah itu hanyalah sebuah titik koordinat yang tertulis di atas peta dunia. Mereka sibuk menenun jarak dan menghitung batu jalan, memapah raga meredah samudera demi sebuah pertemuan zahir, namun seringkali terlupa membawa hati yang terpaku di lorong kelalaian. Madinah yang sebenar (Kekasih yang ingin kau ziarah itu) bukanlah sebuah destinasi geografi; ia adalah sebuah keadaan hati. Jika kau hanya membawa jasad tanpa membawa jiwa, kau hanyalah seorang pelancong yang berdiri di depan monumen, bukan seorang pencinta yang menghadap Kekasih.
–
Janganlah kau berduka jika takdir hari ini memasung jasadmu daripada menjejakkan kaki ke tanah haram itu. Jasad memang punya batas, ia terkurung dalam sangkar ruang dan waktu yang seringkali zalim. Namun, hati adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang tidak mengenal batas. Jika jasadmu terhalang oleh tembok dunia, biarlah hatimu yang menjadi pengembara. Setiap malam, saat dunia sedang lelap dalam kelalaian, kau boleh melintasi samudera rindu hanya dengan sayap Sholawat yang berdenyut di Nadi Cinta.
–
Hati yang benar-benar mencintai tidak pernah mengenal istilah perpisahan. Ia tidak terikat pada birokrasi jarak atau izin penjaga batas; bagi hati, setiap denyut rindu adalah sayap yang membawanya menerobos hijab dunia terus ke gerbang kekasihnya. Di mana pun kau berada, di celah hiruk-pukuk kota atau di sunyi pedalaman, kau sebenarnya sedang menetap di halaman Baginda jika rindu itu menjadi nafasmu. Inilah yang kita namakan sebagai Ziarah Sirr – sebuah perjalanan Rahasia yang tidak memerlukan suara, namun sampai tepat ke muara Nur yang abadi.
–
Pada akhirnya, ziarah yang paling agung bukanlah tentang seberapa jauh kakimu melangkah, tetapi seberapa dalam hatimu tenggelam dalam ingatan kepada-Nya. Maka, pejamkan matamu, tenangkan jiwamu, dan mulakanlah perjalananmu sekarang. Sholawatlah dengan rasa rindu yang mendalam. Karena di dermaga rindu ini, Baginda senantiasa menanti jiwa-jiwa yang pulang.
Yu akhiri dengan membaca sholawat:
Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima
Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad), Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)