Di lembaran usang risalah ini, tinta bermula dengan sujud,
Bukan sekadar bicara akal, tapi getaran Rahasia yang wujud.
Sang Arif memahat benteng, saat tasawuf hampir hanyut,
Mengikat kembali hati yang liar, pada pasak syariat yang teguh terpaut.
–
Lihatlah barisan para kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, bintang-bintang yang bersinar,
Mereka bukan pemuja khayalan, bukan hamba zahir yang tersasar.
Tokoh-tokoh agung berdiri saksi, bahwa batin takkan pernah benar,
Jika kaki tidak berpijak di atas Sunnah, di jalan lurus yang tidak memudar.
–
Apakah itu Mahabbah? Tanyamu pada angin yang mendayu,
Ia adalah penyerahan total, saat ego dan “aku” mulai layu.
Mengutamakan Sang Kekasih, meskipun pedih merobek kalbu,
Bukan sekadar rindu di bibir, tapi ketaatan yang tak pernah kaku.
–
Dengar! Tuhan berfirman melalui lisan Rasul yang paling mulia,
“Jika kau cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ikutilah aku,” itulah syarat yang nyata.
Tiada ma’rifat tanpa ketaatan, tiada hakikat tanpa cahaya,
Sesiapa mendakwa cinta tanpa Sunnah, maka dia hanya memburu fatamorgana.
–
Sholawat itu bukan sekadar rantaian kata yang berulang,
Ia adalah jambatan cahaya, saat kegelapan nafsu mula menyerang.
Satu Sholawatmu dibalas sepuluh rahmat, yang memadamkan api yang garang,
Menghubungkan debu di bumi, dengan Arasy Tuhan yang maha terang.
–
Kau katakan kau ingin Fana’, lebur dalam lautan ketuhanan,
Namun kau abaikan adab pada Nabi, sang pemilik segala kebenaran.
Ketahuilah, Sholawat itu adalah syifa’ bagi mereka yang mencari ketenangan,
Membersihkan karat di cermin hati, agar Tuhan sudi memberi pandangan.
–
Dalam setiap hela nafas, hadirkan wajah Baginda di ruang mata,
Bukan sebagai berhala, tapi sebagai cermin keagungan Yang Maha Esa.
Kerna Allah Subhanahu wa Ta’ala dan malaikat-Nya bersholawat, satu Rahasia yang luar biasa,
Maka sesiapa yang bersholawat, dia sedang berada dalam aliran semesta.
–
Maqamat itu tangga yang didaki dengan peluh dan air mata,
Dari Taubat yang jujur, sehingga ke Ridho yang tiada sengketa.
Namun di setiap anak tangga, namamu Ya RasulAllah Subhanahu wa Ta’ala, tetap bertakhta,
Kerna tanpamu sebagai penunjuk, sang salik pasti akan terleka dan buta.
–
Hal (keadaan) itu anugerah, datang bagai kilat di malam gelita,
Menghumban hati ke lembah rindu, atau ke puncak gembira yang nyata.
Namun setiap bicara berpesan, jangan terpedaya dengan rasa yang sementara,
Ukur setiap getaran jiwamu, dengan neraca syariat yang tiada tara.
–
Adab itu adalah mahkota, bagi mereka yang ingin sampai ke pintu-Nya,
Adab kepada guru, adalah bayangan adab kepada Nabi yang mulia.
Siapa yang sombong pada wasilah, akan terhijab daripada Pencipta-Nya,
Kerna pintu menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala itu satu, dan kuncinya ada pada tangan Baginda.
–
Zikirmu akan hambar, jika tiada Sholawat yang membasahi lidah,
Ibadahmu akan kering, jika tiada cinta yang menjadikannya indah.
Catatan ini adalah peringatan, agar kita tidak tersasar arah,
Bahwa tasawuf itu adalah akhlak, yang lahir dari hati yang pasrah.
–
Maka hiruplah titisan madu ini, dari piala ilmu yang tulus dan murni,
Hancurkan berhala nafsu yang kau sembah di dalam diri.
Sholawatlah dengan rindu, ikutilah Nabi dengan setulus hati,
Agar di hujung jalan nanti, kau bertemu Tuhan dalam keadaan diRidhoi.
Yu akhiri dengan membaca sholawat:
Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima
Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad), Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)