23. Mencari Mursyid Rahasia Di Balik  Getaran Sholawat.

Wahai jiwa yang sedang mencari, engkau tidak perlu mengejar cahaya itu ke hujung dunia, karena sinarnya sedang memperhatikanmu di balik  cermin hatimu yang masih berdebu.

Sahabatku yang sedang dalam resah, saya tahu ada sebuah pertanyaan yang sering kali datang mengetuk pintu fikiranmu di saat sunyi – sebuah soalan yang mungkin belum sempat engkau luahkan pada sesiapa. Engkau tercari-cari, bukan? Tercari-cari di mana sebenarnya hujung jalan ini, dan siapakah tangan yang bakal memimpinmu saat jiwamu terasa kelam.

Bisikan yang sering menerpa di fikiranmu yang bertanya: “Di manakah dia, Sang Penunjuk Jalan yang boleh membimbingku pulang kepada Tuhan? Bagaimana aku mau  mengenali wajahnya di tengah jutaan manusia?” Kegelisahanmu itu sebenarnya adalah satu rahmat. Ketahuilah, tidaklah seorang hamba itu digerakkan hatinya untuk mencari seorang Guru, melainkan Guru itu sebenarnya sudah pun mendoakannya dan sudah pun mengenalnya di alam Rahasia.

Janganlah engkau merasa tidak layak mencari Mursyid hanya karena merasa dirimu masih bergelumang dosa. Ketahuilah, apabila dalam hatimu tumbuh keinginan yang kuat untuk mengenal Tuhan – bukan karena syurga, bukan karena takut neraka, tapi semata-mata karena Dia – maka saat itu engkau sudah dikira sebagai seorang Salik.

Walaupun ibadatmu masih compang-camping, walaupun parut maksiat masih ada, jangan berhenti. Seorang doktor tidak mencari orang yang sihat; seorang Mursyid mencari jiwa yang mengaku dirinya ‘sakit’ dan mau  dirawat.

Lalu engkau bertanya, “Apa yang harus aku lakukan sementara aku belum menemuinya?” Jawabnya: Lazimi Sholawat. Perbanyakkanlah menyebut nama Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sholawat itu adalah ‘tali’ yang akan ditarik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membawamu bertemu dengan para pewaris Nur Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana Kalam Hikmah Arifbillah: “Sesiapa yang tidak mempunyai Guru, maka Sholawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Gurunya.” Sholawat itu akan membersihkan cermin hatimu sehingga suatu hari nanti, cermin itu cukup jernih untuk memantulkan cahaya wajah Sang Mursyid yang engkau cari.

Ketahuilah, Sang Mursyid itu senantiasa ada. Bumi ini tidak pernah kosong daripada mereka. Masalahnya bukan pada ‘ketiadaan’ mereka, tetapi pada ‘keikhlasan’ kita. Kita sering mencari Mursyid untuk keajaiban (karamah), padahal yang kita perlukan adalah ‘Istiqamah’.

Apabila engkau mencari dengan keikhlasan yang murni untuk sampai kepada Tuhan, maka Dia sendiri yang akan menyingkap hijab itu. Seperti kata Maulana Rumi:

“Apa yang engkau cari, sebenarnya sedang mencarimu.”

Jika engkau mau  bertemu ‘Dia’, lakukanlah ini:

1) Ikhlaskan Niat: Berdoalah, “Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, temukanlah hamba kepada seseorang yang dapat menghubungkan hamba dengan-Mu.”

2) Perisai Sholawat: Jadikan Sholawat sebagai nafasmu. Ia adalah magnet bagi para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenalmu.

3) Adab: Jangan menilai dengan mata zahir. Mursyid itu kadangkala tersembunyi di balik  kesederhanaan.

Jangan bimbang tentang ‘bagaimana’ engkau akan bertemu dengannya. Tugasmu hanyalah menjadi pengembara yang jujur dan ikhlas. Apabila murid sudah bersedia, maka Guru akan muncul di depan mata.

Yu akhiri dengan membaca sholawat:

Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima

Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad),  Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *