–
–
Dalam jalan kesufian, Mursyid itu bukanlah sekadar pemberi ilmu, bahkan dia adalah “pintu” dan “cermin” yang memantulkan cahaya Ilahi ke dalam sanubari murid. Hakikatnya, cinta kepada Mursyid itu bukanlah penyembahan sesama makhluk, melainkan satu bentuk Wasilah (perantaraan). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Ghaib, maka Dia menzahirkan sifat-sifat Jamal (Keindahan) dan Kamal (Kesempurnaan)-Nya melalui peribadi seorang pewaris Nabi. Maka, sejauh mana sucinya penyerahan hati seorang murid kepada gurunya, maka sejauh itulah sebenarnya dia telah menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
–
–
Pernahkah kita terfikir, mengapa hati ini terasa begitu rindu pada sesosok insan yang kita panggil “Guru”? Mengapa titisan air mata jatuh tidak tertahan tatkala mendengar kalamnya, sedangkan dia hanyalah seorang manusia biasa yang makan dan minum seperti kita? Di sinilah letaknya Rahasia yang sukar dicerna oleh akal yang hanya bersandar pada logik, namun mudah dirasa oleh hati yang telah disentuh oleh Nur hidayah.
–
–
Cinta kepada Mursyid itu adalah seumpama kita mencintai cahaya bulan. Walaupun cahaya itu menerangi kegelapan malam, kita tahu bahwa bulan tidak memiliki cahayanya sendiri. Ia hanyalah memantulkan cahaya matahari yang tersembunyi di balik ufuk. Begitulah perumpamaan seorang Mursyid Kamil Mukamil. Dia adalah bulan yang memantulkan keagungan “Matahari” Hakiki, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala Jalla Jalaluh.
–
–
Ketahuilah, sedalam mana, sebenar mana, sekuat mana cinta kita kepada Mursyid, sekadar itulah cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengapa demikian? Karena Mursyid itu telah memfana-kan (melenyapkan) keakuan dirinya di dalam Kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita mencintai mereka yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka cinta itu akan meresap terus ke dalam Hadrat-Nya tanpa hijab. Tidak mungkin seseorang itu mendakwa dia mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan dia membenci atau membelakangi wasilah (perantara) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala hantarkan untuk memimpin tangannya.
–
–
Cinta itu bukan barang dagangan yang boleh dibeli di mana-mana. Ia adalah Anugerah. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menghumbankan rasa kasih itu ke dalam lubuk hati kita. Namun, tahukah kita bagaimana cara Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang kerdil ini?
–
–
Dia mengirimkan seorang Guru. Melalui bimbingan Guru, melalui teguran Guru, dan melalui pandangan mata Guru yang penuh dengan kasih sayang (Pandangan Bashirah), di situlah sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menyentuh roh kita. Tatkala Guru tersenyum melihat kemajuan rohanimu, hakikatnya itu adalah isyarat keRidhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tatkala Guru bersedih melihat maksiat dan kelalaianmu, itu adalah peringatan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kamu kembali bertaubat.
–
–
Apabila kita mengatakan “Aku cinta pada guruku”, sebenarnya roh kita sedang menjerit, “Aku rindu pada Tuhanku!”. Mursyid hanyalah ‘stesen’ tempat kita berhenti untuk mengambil bekalan sebelum meneruskan perjalanan kepadaNya. Tujuan sebenar adalah Tuhan Yang Maha Esa.
–
–
Inilah puncak segala nikmat: “Bila guru cinta kepada kita, hakikatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mencintai kita.”
–
–
Alangkah beruntungnya jiwa yang mendapat tempat di hati seorang kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika namamu tertulis di situ dengan tinta kasih sayang, maka namamu sebenarnya telah pun harum di kalangan para malaikat di langit.
–
–
Maka, janganlah engkau hairan jika ada insan yang sanggup berkorban apa sahaja demi gurunya. Mereka bukan gila, bukan juga taksub yang buta. Mereka saja sedang mabuk dalam lautan cinta Ilahi yang ombaknya dizahirkan melalui perantaraan Sang Mursyid.
–
–
Marilah kita perbaharui niat dan cinta kita. Janganlah kita melihat Mursyid itu sebagai sosok manusia semata-mata, tetapi pandanglah ia sebagai ‘surat cinta’ yang dikirimkan Allah Subhanahu wa Ta’ala khusus untuk menyelamatkan kita daripada lembah kelalaian dan kebinasaan.
–
–
Cinta kepada Guru adalah jambatan. Seberangilah jambatan itu dengan penuh tertib dan adab, maka di hujungnya nanti, engkau akan dapati keRidhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menantimu dengan hamparan rahmat yang tiada bertepi.