Sesungguhnya tarian jemari di atas kaca nipis ini ku susun sebagai muhasabah yang ku hunjamkan ke jantung egoku terlebih dahulu, namun kutitipkan juga di sini moga ia menjadi getaran hikmah buat nuranimu, wahai saudaraku, agar kita dapat memetik cahaya bersama di lebuh raya maya ini…
–
Telah tersurat dalam lembaran kitab Rahasia yang paling purba, bahwa memberi cinta itu adalah semerbak bunga yang mekar di tengah belantara…,
Ia tidak peduli pada hidung yang menghidu, ia tidak gusar pada mata yang memandang dengan keletihan jiwa, karena harumnya adalah janji antara dia dan Sang Pencipta yang Esa…,
–
Berilah cinta seperti mentari yang mewakafkan cahayanya tanpa pernah diperam dalam pundi-pundi keakuan, karena siapa yang memberi tanpa mengharap pantulan, dia sedang terbang merdeka di angkasa keikhlasan…,
Manakala sesiapa yang menuntut cinta sebenarnya sedang merantai lehernya pada jiwa manusia yang fana.
–
Ketahuilah bahwa dahaga akan cinta dan keinginan untuk senantiasa dicintai tanpa engkau memberinya terlebih dahulu adalah sisa-sisa nafas kebudak-budakan serta petanda batin yang paling papa…,
–
Jadilah seperti pohon beringin yang akarnya menghunjam ke bumi dan dahan-dahannya memayungi kepanasan…,
Ia tidak pernah meminta burung untuk bernyanyi sebagai upah teduhan, namun burung-burung tetap datang membawakan lagu yang paling merdu…,
Begitulah janji alam buat mereka yang fana dalam memberi.
–
Lihatlah pada samudera yang luas membiru, ia menerima segala sisa dan kotoran dengan dada yang sayu, namun ia memulangkan awan yang membawa rahmat ke seluruh penjuru…,
Ia tidak pernah meminta pantai untuk tunduk menghormat, ia tidak pernah merayu agar nakhoda memberikan surat amanat…,
Begitulah seharusnya hati yang telah mengenal akan harumnya adab, memberi cinta tanpa bicara dan menyintai tanpa hitungan hisab.
–
Maka capailah fasa dewasa budi dan ranum rohani seumpama padi yang tunduk membumi, bukan karena lemah, tetapi karena sadar bahwa memberi manfaat adalah puncak segala kedewasaan yang meruntuhkan setiap belenggu ego.
–
Wahai diri yang hanyut dalam arus kepura-puraan, pulanglah ke pangkal jalan, ke sebuah taman penuh kesabaran…,
Padamkanlah api tuntutan yang membakar ladang-ladang amalmu, leraikanlah ikatan kepentingan yang menjerut leher nuranimu…,
Karena pada akhirnya, saat tanah mula bicara dan langit mula menutup pintu…,
Hanya cinta yang kau beri akan menjadi obor, manakala cinta yang kau pinta akan menjadi debu yang berterbangan di lorong-lorong bisu.
–
“Dan yang pasti, seumpama sungai yang akhirnya tumpah ke samudera, begitulah jua engkau akan dihimpunkan bersama dia yang kepadanya paling banyak engkau wakafkan cinta dari lubuk Rahasiamu yang paling sunyi.”
–
Maka biarlah embun peringatan ini membasahi gersang hatiku terlebih dahulu, sebelum ia mengalir tenang menjadi titipan buat setiap jiwa yang mendamba cahaya;
–
Hujung tinta, tuntaslah bahwa puncak kedewasaan rohani itu terletak pada tiga hakikat:
Pertama, memerdekakan jiwa daripada penjara mengharap balasan;
Kedua, membunuh ego kebudak-budakan yang hanya tahu meminta;
Ketiga, fana dalam memberi manfaat seumpama samudera.
Karena pada akhirnya, kita tidak memiliki apa-apa yang kita simpan, kita hanya memiliki apa yang telah kita wakafkan.
–
Semoga kita dihimpunkan dalam barisan jiwa yang paling rakus mewakafkan cinta demi Sang Pencipta, karena sesungguhnya, kedermawanan hati dalam memberi adalah mercu tanda bagi sebuah cinta yang telah mencapai maqam Shiddiq.
Yu akhiri dengan membaca sholawat:
Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima
Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad), Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)