33. Limpahan Cinta Tuhan Bagaimana Hati Seorang Mursyid Menjadi Wadah Kasih Sayang Ilahi

Pernahkah anda terfikir, di padang mahsyar nanti saat semua orang berlari menyelamatkan diri sendiri – malah seorang ibu sanggup melepaskan tangan anaknya karena ketakutan. Siapakah yang masih tegar berdiri mencari kita?

Kita tahu betapa agungnya cinta seorang ibu. Ia adalah fitrah. Namun, ada satu lagi cinta yang jarang dibicarakan: Kasih seorang Mursyid. Jika cinta ibu lahir dari rahim jasad, cinta Mursyid lahir dari rahim cahaya. Kasih ibu itu fitrah, tapi kasih Mursyid itu Rahmat Ilahi. Satu berakhir di kubur, satu lagi hingga ke Firdaus. Ia bukan soal pertalian darah atau kepentingan duniawi, tetapi ia adalah tajalli (manifestasi) rahmat Tuhan yang tumpah ke dalam hati mereka melalui perantaraan jiwa suci Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

1) Tajalli Rahmat di Dalam Hati.

Mengapa Mursyid boleh begitu sayang kepada muridnya? Karena di dalam hati guru itu, ada limpahan rahmat Tuhan yang mengalir melalui jiwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hati seorang Mursyid adalah cermin yang menangkap cahaya kenabian. Apabila dia memandang muridnya, dia tidak melihat pangkat atau rupa, tetapi dia melihat amanah Tuhan yang perlu dipimpin kembali ke jalan pulang. Ini bukan lagi soal ikhtiar manusiawi, tetapi ia adalah ‘kerja Tuhan’ yang diletakkan di atas bahu sang guru.

2) Jambatan Yang Tidak Putus.

Dunia ini adalah tempat perpisahan. Segala yang bermula dengan jasad, akan berakhir dengan tanah. Namun, hubungan antara murid dan Mursyid adalah urusan roh. Roh tidak mengenal maut. Di saat dunia ini digulung, dan hubungan nasab (keturunan) terputus, cinta ini tetap utuh. Mengapa? Karena Mursyid memandang muridnya dengan mata ‘belas kasihan’ yang dipinjam dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka tidak melihat kesilapan kita sebagai alasan untuk membuang, tetapi sebagai luka yang perlu diubati.

3) Pencarian Di Padang Mahsyar.

Bayangkan suasana di Akhirat. Di saat ketakutan menyelubungi setiap jiwa, para Mursyid tidak segera berlari ke syurga. Balik nya, mereka berdiri di barisan pengikutnya, menoleh ke belakang, mencari setiap wajah yang pernah duduk bersimpuh di hadapannya di dunia dahulu. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencari umat Baginda, begitulah para pewaris Baginda mencari murid-muridnya. Cinta ini tidak berhenti di liang lahad; ia menembusi batas maut untuk memastikan tiada satu pun ‘anak rohaninya’ yang tertinggal dalam kegelapan.

4) Cinta sejati tidak berakhir di liang lahad. Ia adalah jambatan yang membawa kita melintasi huru-hara akhirat. Jika hari ini anda merasa sunyi dan sesat, carilah tangan yang boleh memimpin ruhmu kembali kepada Pencipta (Mursyid Kamil Mukammil). Tidak lain tidak bukan salah satu cara adalah dengan memperbanyakkan Sholawat kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ruhani Ahli Sholawat akan dipimpin oleh Nur Sholawat dan seterusnya akan terhubung kepada ‘Pusat Cahaya’ zaman itu yaitu Mursyid Kamil Mukammil.

MARILAH MEMPERBANYAKKAN SHOLAWAT KEPADA BAGINDA NABI Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Yu akhiri dengan membaca sholawat:

Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima

Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad),  Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *