30. Jalanmu Cahaya Tapi Mengapa Langkahmu Masih Meraba dalam Gelap

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum manis saat dunia membaling batu ke arahnya, namun engkau merintih pedih hanya karena Tuhan sedikit lewat memberikan apa yang kau mau . Lihatlah semula pada cermin hatimu; adakah yang kau bawa itu cahaya MUHAMMAD, atau hanya bayang-bayang nafsu yang kau namakan sebagai cinta?

Wahai pengembara yang sedang lelah di padang gundah, yang kakinya tersadung pada batu-batu resah. Dengarkanlah rintihan pena yang memujuk jiwa, yang membawa khabar tentang cinta dan Rahasia. Sesungguhnya, jalan Sufi itu bukanlah lorong kesedihan yang gelap gulita, melainkan ia adalah taman kebahagiaan yang dipenuhi cahaya ruhani yang nyata. Ia adalah persinggahan bagi ruh yang merindui ketenangan, dan pelabuhan bagi hati yang dicarik oleh gelombang kebimbangan.

Duhai saudaraku, ketahuilah bahwa seorang Sufi itu bukanlah dia yang berpakaian compang-camping tanpa makna, tetapi dia yang hatinya telah rapi dengan hiasan takwa. Mereka adalah manusia yang paling bercahaya wajahnya, dan yang paling teguh jiwanya dalam menghadapi segala pancaroba dunia. Karena apa? Karena mereka tidak lagi melihat kepada makhluk yang fana, melainkan senantiasa merasai kehadiran Tuhan yang Maha Esa. Di dalam setiap hembusan nafas, ada sebutan nama-Nya; dan di dalam setiap detak jantung, ada getaran rindu pada-Nya.

Wahai diri yang sedang meraba di dalam gelita, lihatlah kepada sang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Walau duka melanda setinggi gunung, walau ujian datang memuncak dan membubung, wajah Baginda tetap tenang dan indah bak bulan purnama, senyuman Baginda mekar bagaikan mawar di taman syurga. Itulah tanda kebahagiaan yang hakiki; bukan karena dunia di bawah kaki, tetapi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘bertakhta’ di dalam hati. Jika Baginda yang paling dicintai diuji sehebat itu tetap tersenyum manis, maka mengapakah engkau yang mengaku pengikut Baginda masih mau  menangis dan mengecap gerimis senantiasa?

Maka, duhai jiwa yang sedang bersuluk di jalan Tarekat, perhatikanlah langkahmu dengan cermat. Jika jalan yang kau tempuh itu hanya menambah keluh, dan amalan yang kau buat hanya membuatkan hatimu semakin keruh, maka berhentilah sejenak untuk bermuhasabah. Periksalah kembali niat yang mungkin telah tersimpang arah, atau mungkin hatimu masih terikat pada dunia yang murah. Adakah kau mengambil jalan ini untuk mencari kemasyhuran diri, atau semata-mata untuk menyerahkan diri kepada Ilahi?

Mungkin sahaja, Mursyid yang mendidikmu sudah memberikan penawar yang mujarab, namun engkau yang enggan membuka hijab. Ataupun, mungkin hati yang dijajah jelaga dengki yang pekat, takkan mampu menyambut cahaya makrifat. Bahagia di jalan ini adalah janji yang pasti, seperti manisnya madu yang tak pernah memungkir janji. Namun jika di lidahmu hanya terasa pahit yang melukan, carilah penyakit batin yang belum kau sembuhkan – di ruang Rahasia yang sedang Tuhan perhatikan.

Wahai hamba yang disayangi Ar-Rahman, janganlah kau biarkan hatimu menjadi penjara bagi kesedihan. Ingatlah pesan para Ariffin; bahwa jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah jalan yang paling indah. Ia tidak akan pernah mengecewakan pencintanya, dan tidak akan pernah meninggalkan pengikutnya dalam kehampaan yang sia-sia. Jika kau benar-benar telah bersama-Nya, maka hilanglah segala duka. Jika kau benar-benar telah mengenal-Nya, maka leburlah segala gundah gulana. Karena mustahil bagi seorang hamba yang berada di sisi Raja Alam Semesta, akan merasa miskin dan menderita di dalam jiwa.

Pulanglah kepada jernihnya tauhid, tinggalkanlah keruhnya syirik yang tersembunyi. Basuhlah wajahmu dengan air mata taubat. Niatlah semata-mata mengharap Ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tujuan dan maksud. Perhatikan semula adab terhadap Mursyid atau sesama makhluk. Lazimi istighfar dan perbaharui Taubat. Karena langkahmu yang berat itu mungkin disebabkan oleh rantaian dosa yang merantai kakimu untuk berjalan. Berhenti merintih tentang hari esok. Usah sedih waktu yang lalu. Syukur senantiasa di waktu sekarang. Hadir hati setiap ZIKIR dan SHOLAWAT

Yu akhiri dengan membaca sholawat:

Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima

Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad),  Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *