1. HAKIKAT ‘SEBAB’ SEBAGAI UJIAN.
Seringkali kita terperangkap dalam penjara logika; kita menyangka bahwa airlah yang menghilangkan dahaga, dan usahalah yang mendatangkan hasil. Namun, bagi jiwa yang bertauhid, ‘sebab’ hanyalah hamba yang patuh kepada Tuannya. Al-Wahhab memberi melampaui logika materi agar kita sadar bahwa Dia tidak terikat dengan hukum alam yang diciptakan-Nya sendiri. Apabila Dia hendak memberi, Dia mampu memancarkan air dari batu yang keras. Maka, janganlah kita terikat dengan ‘sebab’, bergantunglah sepenuhnya kepada Dia Yang Maha Pemberi yang setiap pemberian-Nya tidak terikat dengan sesuatu apa pun.
–
2. PENAHANAN ADALAH BENTUK PEMBERIAN YANG TERTINGGI.
Manusia sering melihat penahanan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai sebuah kerugian atau kemurkaan. Namun, di mata hati seorang yang sudah mengenal, penahanan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah “Penjagaan Rahasia”.
“Terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikanmu dunia agar kau lalai, dan terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menahan dunia darimu agar kau kembali kepada-Nya.”
Ibarat seorang ibu yang menahan pisau daripada anaknya yang sedang menangis ingin bermain; penahanan itu bukan karena bakhil/pelit, tetapi karena cinta yang melimpah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menahan sesuatu daripada kita karena Dia tahu ‘racun’ yang tersembunyi di balik keinginan kita. Maka, Penahanan-Nya adalah Pemberian yang terbungkus dalam bungkusan ujian.
–
3. SYUKUR dan SABAR: DUA KUNCI EMAS DI GERBANG MAKRIFAT.
Dalam perjalanan menuju Hadrat-Nya, kita akan senantiasa berbolak-balik antara dua keadaan: Kelapangan dan Kesempitan.
Syukur adalah respon terhadap sifat Jamal (Keindahan) Tuhan.
Sabar adalah respon terhadap sifat Jalal (Keagungan) Tuhan.
Kedua-duanya bukan jalan yang berbeda. Ia adalah dua pintu pada satu gedung yang sama. Apabila kita sudah mengenal bahwa Sang Pemberi dan Sang Penahan itu adalah Dzat yang sama (Maha Bijaksana), maka rasa pahit pada penahanan akan berubah menjadi manis karena kita tahu ia datang daripada Sang Kekasih.
–
4. FANA DALAM TADBIR (Tenggelam Dalam Ketentuan)
Puncak daripada segala hikmah adalah apabila kita berhenti merancang-rancang (tadbir) kehidupan kita dengan penuh kerisauan. Kita meletakkan diri kita seperti mayat di tangan pemandi mayat—pasrah namun sadar.
–
Heningkan duniamu, maka kau akan mendengar bisikan hikmah-Nya. Ridho adalah titik noktah bagi segala kegelisahan; ia adalah penyerahan mutlak yang mengubah ‘Kekurangan’ menjadi ‘Kecukupan’ di sisi Dzat yang Maha Kaya.
–
Jangan berhenti berdoa, akui sifat faqir kita, miskin kita, maka Tuhan Maha Kaya akan memberi yang sesuai dan terbaik untuk kita.