Perjalanan menuju ke hadrat Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala itu bukannya sebuah perlumbaan kuda yang tangkas, melainkan ia adalah sebuah perjalanan cinta yang sangat halus.
–
–
Adapun kita ini seringkali memandang rendah pada amalan yang sedikit. Kita melihat sang abid yang malamnya diterangi cahaya tahajud, manakala kita masih lagi merangkak-rangkak ingin membuka mata di waktu fajar. Hati mula berbisik, “Layakkah aku dicintai Tuhan?”
–
–
Ketahuilah, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu tidak memandang pada cepat atau lambatnya langkahmu, melainkan Dia memandang kepada benarnya niat yang terpatri di sanubari. Jikalau engkau terpaksa merangkak dalam keadaan lututmu luka dek duri-duri dunia, namun arahmu (hendak hatimu) tetap mau menuju kepada-Nya, maka itu adalah seribu kali lebih mulia daripada mereka yang berlari kencang tetapi hatinya berpaling ke arah yang lain.
–
–
Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ibarat benih yang tumbuh di tanah yang gersang. Ia tidak terus menjadi pohon yang rimbun dengan buah yang ranum. Ia bermula dengan titisan air mata taubat yang menyirami bumi hati, kemudian ia mengeluarkan tunas yang lemah. Tunas itulah “merangkak” namanya. Janganlah engkau cabut tunas itu hanya karena engkau melihat pohon orang lain sudah tinggi melangit.
–
–
Seringkali kita terpesona melihat para kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lidahnya senantiasa basah dengan Zikir & Sholawat, yang hatinya tidak lagi berpaling pada emas dan perak. Kita berkata, “Alangkah gagahnya mereka melangkah!”
Namun, tanyakanlah pada mereka, apakah Rahasianya? Niscaya mereka akan menjawab dengan linangan air mata: “Dahulu, kami juga adalah si kecil yang merangkak di dalam kegelapan. Kami juga pernah jatuh tersungkur di lembah maksiat. Kami juga pernah merasai payahnya melawan nafsu yang serakah.”
–
–
Tiada seorang pun manusia yang lahir terus menjadi wali. Semuanya bermula dengan kepayahan. Karena itu, janganlah engkau bersedih hati andai hari ini engkau hanya mampu berzikir sebaris dua, atau hanya mampu bersedekah sekupang dua. Yang penting, biarlah merangkak itu konsisten (istiqamah), karena di hujung rintihan “merangkak” itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menanti dengan hamparan rahmat-Nya yang luas.
–
–
Pesanan Buat Hati yang Luka:
Jika hari ini engkau merasa letih dengan dosa-dosamu, janganlah engkau berhenti. Teruskanlah merangkak. Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Al-Latif, Maha Lembut. Dia tahu walau apa jua keadaanmu, di lubuk hatimu itu sangat merindui kebaikan.
–
–
Orang yang merangkak menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala itu sedang dipimpin oleh “tangan-tangan Malaikat”. Karena apa? Karena dia sedang berjuang melawan beratnya bebanan diri sendiri demi mencari Ridho Tuhan. Maka, bergembiralah walau sekarang ini kau sedang merangkak, kelak, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberimu sayap untuk terbang di taman-taman syurga, sebagai ganjaran atas sabarmu di kala engkau hanya mampu merangkak di dunia yang fana ini.
Jangan putus Zikir الله الله di hatimu, jangan biarkan lidahmu kosong tanpa Sholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Perbanyakkanlah Sholawat kepada Nabi, sambil hatimu berterusan berzikir menyebut الله الله. Kau akan merasai hidupmu (HATIMU) total berubah menjadi tenang. Karena dengan Sholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, rahmat Tuhan mencurah-curah turun kepadamu berterusan.