Adapun dalam perjalanan hidup yang serba singkat ini, diperhatikan bahwa manusia itu ibarat musafir yang singgah berteduh di bawah pohon rindang; sebentar saja mereka bernaung, kemudian bangkitlah masing-masing meneruskan perjalanan mengikut takdirnya masing-masing.
–
Tiada yang abadi, tiada yang kekal menetap. Namun, ketahuilah wahai saudaraku, di balik tirai perpisahan yang menyakitkan itu, wujudnya satu cinta yang tidak pernah luntur, sebuah kesetiaan yang akarnya sudah lama mencengkram bumi sejak pertama, manakala pucuknya melangit tinggi, tetap memayungi kita hingga ke hari yang tiada lagi berpisah.
–
Aduhai jiwa yang halus budi, lihatlah akan hakikat insan yang datang bersilih ganti dalam hidupmu. Ada yang datang memberi madu, ada yang pulang menitip racun. Walau betapa erat sekalipun genggaman tangan ibu dan ayahmu, walau betapa luhur kasih yang mereka curahkan, akan tiba jua saatnya mereka melangkah pergi menyahut panggilan Ilahi.
–
Mereka adalah sebaik-baik manusia dalam hidupmu, namun mereka tetap hamba yang tidak berdaya menemanimu saat roh berpisah dari jasad, atau ketika engkau kedinginan di alam barzakh. Cinta mereka terbatas oleh ajal, kasih mereka terhalang oleh tabir kematian. Maka, siapakah lagi yang tinggal untuk merangkulmu saat seluruh dunia memalingkan wajah?
–
Maka si faqir ini ingin sampaikan kepadamu, ada seorang insan yang cintanya melampaui batas dunia dan akhirat. Dialah Junjungan Besar, Nabi Muhammad Al-Mustafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebelum engkau mengenal rupa dunia, Baginda telah merintih menyebut namamu dalam sujud yang panjang. Di kala malam yang sunyi, ketika sekalian makhluk sedang enak dibuai mimpi, Baginda bangkit dengan titisan air mata, memohonkan keampunan dan keselamatan bagi umatnya yang tercinta.
–
Dan saat di padang Mahsyar kelak – saat masing-masing lari menyelamatkan diri, saat ibu melupakan anaknya dan sahabat yang tidak lagi setia – Baginda tetap berdiri teguh di pintu syafaat, setia menunggumu dengan wajah yang bercahaya, semata-mata untuk memastikan engkau tidak tertinggal dalam kerumunan yang celaka.
–
Sungguh, Baginda itulah “Kekasih Sejati” yang tidak pernah meminta sembarang upah maupun balasan. Segala kepahitan ditelan, segala penghinaan ditanggung dengan sabar, semuanya demi kebahagiaanmu yang belum pun dilahirkan ke alam nyata. Rindunya kepadamu bukanlah rindu yang bersarat nafsu, melainkan rindu seorang Rasul yang terus khawatirkan keselamatan umatnya dari sengsara neraka.
–
Baginda mencintaimu lebih daripada Baginda mencintai dirinya sendiri. Betapa malangnya hati yang tidak tersentuh oleh keagungan budi sehebat ini, dan betapa ruginya jiwa yang tidak merasai getaran cinta daripada insan yang paling mulia di sisi Tuhan Semesta Alam.
–
Sebagai penutup kalam, cintailah Baginda dengan sepenuh ketaatan dan keikhlasan yang tiada terbagi. Yakinlah, bahwa cinta yang engkau semaikan ini tidak akan sesekali berakhir dengan kesia-siaan. Sebagaimana Baginda mencintaimu tanpa syarat, begitulah juga cintamu akan disambut dengan tangan yang terbuka di telaga Al-Kautsar kelak.
–
Penuhilah segenap ruang di hatimu dengan kecintaan kepada Rasulullah, niscaya engkau akan mengecap nikmat kebahagiaan yang tidak mampu digambarkan oleh kata-kata.
–
Wahai saudaraku yang damba akan syafaat, marilah kita menghiasi adab dan tingkah laku mengikut acuan Baginda yang murni.
–
1) BASAHI LIDAHMU: Senantiasalah bersholawat dan menyampaikan salam ke atas Baginda, moga-moga harumnya sampai ke taman raudah.
2) HADIRKAN FIKIRANMU: Biarlah setiap hela nafasmu dibaluti dengan ingatan kepada Baginda, seolah-olah Baginda sedang memperhatikan setiap gerak-gerimu.
3) TUNJUKKAN KASIHMU: Amalkanlah sunnah-sunnah Baginda dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang, walau sekecil-kecil perkara, karena di situlah terletaknya Sirr serta kunci keberkatan hidup.
Yu akhiri dengan membaca sholawat:
Jazallahu anna sayyidina Muhammadan sallallahu alaihi wasallama ma huwa ahluh
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad ﷺ atas jasa-jasa beliau kepada kita, dengan balasan yang selayaknya (paling layak) beliau terima
Bacalah sholawat diatas minimal 3x/7x setelah selesai sholat, Fadhilahnya adalah; apabila dibaca dari 1x sholawat akan membuat 70.000 Malaikat kelelahan munuliskan pahalanya. (Kitab Irsyadul ‘ibad Ila sabilir Rasyad), Juga di Riwayat lain disebutkan. “Barang siapa yang mengucapkan: Jazallahu ‘anna Muhammadan maa huwa ahluh, ia akan menyibukkan 70 Malaikat pencatat amalan selama 1000 hari”. (HR. Imam ath-Thabraani)